Monthly Archives: June 2010

DBNA dan Dayak Bidayuh Indonesia menjayakan “Budaya Serumpun” dan “Nyobeng” – 2010

DBNA dan Dayak Bidayuh Indonesia menjayakan “Budaya Serumpun” dan “Nyobeng” di Sebujit, Kecamatan Siding Kabupaten Bengkayang, KALBAR 14 dan 15 Jun 2010.

Tahun 2010 menjadi tahun pertama bagi Persatuan Kebangsaan Dayak Bidayuh (DBNA) mengadakan lawatan ke Negara Indonesia di Kabupaten Bengkayang di Kalimantan Barat. Acara yang julung kali di adakan ini digelar “Budaya Serumpun” di Sebujit, Kecamatan Siding.

Seramai 71 orang telah mendaftar dengan DBNA untuk menyaksikan acara “Nyobeng “ untuk pertama kalinya. Nyobeng diadakan di Sebujit tiap-taip tahun dengan Dayak Bidayuh Malaysia dan Dayak Bidayuh Indonesia. Tahun ini acara ini di adakan pada tanggal 14-16 June 2010.

“Budaya Serumpun” diaturkan oleh Dinas Budparpora Bengkayang melalui Kasi Kesenian Tradisional dan Modern, Ricky H. Silalahi, Jumat. Penganjur untuk DBNA ialah En Alim Mideh bersama dengan Presiden En Ik Pahon Joyik dan sebelah Indonesia En. K. Gunawan yang mengaturkan perjalanan kami. Kerjasama ini membolehkan perjalanan dan atur-cara di adakan dengan baik.

Perjalanan dari Sempadan Malaysia ke Pekan Seluas memakan masa selama 1 jam dengan melalui Kecamatan Jagoi Babang dan Kecamatan Siding. Dari Pekan Seluas kami menaiki bot untuk sampai ke tebing Sungai Bumbum sebelum sampai ke Sebujit. Dari situ, kami berjalan kaki selama 1 jam 30 minit untuk sampai ke Sebujit. Perjalanan melalui jalan hutan dan becak menyukarkan perjalanan para rombongan dari DBNA yang jarang-jarang melalui jalan sebegitu amat meletihkan tetapi keseronokan di wajah-wajah para perserta memberi semangat untuk sampai ke Sebujit.

Pada dasarnya, budaya ini untuk DBNA dan Dayak Bidayuh Indonesia dapat  mengembangkan nilai budaya yang dimiliki masyarakat bersama dan budaya serumpun untuk menyatukan diantara satu dan yang lain.

Diharapkan di masa akan datang ianya dapat memberikan nilai positif pada Dayak bidayuh di semua bidang, baik bidang ekonomi, sosial, budaya, pertanian dan banyak lagi.

Upacara Nyobeng merupakan upacara adat memandikan atau membersihkan tengkorak kepala manusia hasil mengayau nenek moyang suku Dayak Bidayuh pada zaman dahulu.

Setelah sampai di Sebujit kita di bawa ke Rumah Adat atau di panggil “Rumah Adat Balug”

Rumah Adat Balug adalah miniatur khas milik Suku Dayak Bidayuh salah satu sub suku dayak di Kalimantan Barat. Rumah adat ini terletak di Desa Sebujit, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang. Rumah adat ini juga digunakan untuk Upacara Nyobeng. Bahkan, miniatur rumah adat ini sudah diresmikan di Anjungan Kalbar, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta.

Di Sebujit ada program home stay bagi para tetamu pun sudah siap. Sesetengah kami juga menjadi pelanggan di home stay Sebujit ini. Jumlah home stay yang ada sebanyak 15 buah dengan 1 kantin. Untuk 1 buah home stay, dapat menampung 5 atau 6 orang.  Pentas dan tempat untuk para kehormat telah pun disediakan di sebelah padang bola kampung sebujit.

Ritual Nyobeng; Memandikan Tengkorak Manusia Hasil Mengayau

Nyobeng dari berbagai referensi merupakan sebuah ritual memandikan atau membersihkan tengkorak manusia hasil mengayau oleh nenek moyang. Ini dilakukan oleh suku Dayak Bidayuh, salah satu sub-suku Dayak di Kampung Sebujit, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.

Mengayau adalah memenggal kepala manusia, dan tengkoraknya diawetkan. Sekarang, tradisi mengayau sudah tak dilakukan lagi. Upacara ini cukup mengharukan, dan berlangsung selama tiga hari. Mulai tanggal 14 hingga 16 June.

Kami sempat bertanya kepada Pak Amin, Bapa kepada En K. Gunawan apakah kegiatan Nyobeng. Pak Amin mengatakan kegiatan utamanya ialah untuk memandikan tengkorak yang tersimpan dalam rumah adat. Acara ini dipercayakan ada acara tahunan dan turun temurun. Menyambut tetamu di batas kampung dengan upacara adat sambutan. Pak Gawai akan menanya tetamu yang datang dengan seluruh Pahlawannya kebatas kampung. Pada awalnya, ini dilakukan untuk menyambut tetamu yang datang dari mengayau. Penyambut, mengenakan selempang kain merah dengan hiasan manik-manik dari gigi binatang. Dilengkapi dengan sumpit dan senapang yang dibunyikan, ketika para tamu undangan hendak memasuki batas desa. Sumpit juga diacungkan bersama.

Letupan dari senapang tersebut, juga berguna memanggil roh “komang” atau “leluhur” sekaligus minta izin bagi pelaksanaan ritual Nyobeng. Lalu, ketua adat melempar anjing ke udara. Dengan mandau, pihak ketua tamu rombongan harus membunuhnya. Selepas itu ayam hitam di lemparkan dan begitu juga tetamu akan membunuhnya. Ketua adat melempar telur ayam kepada rombongan tamu. Bila telur bererti tamu datang dengan ikhlas.

Beras putih dan kuning dilempar sambil membaca mantra. Para gadis akan memberi air tuak dari pohon niru/injuok yang dicampur kulit pohon pakak yang telah dikeringkan. Selepas minum, rombongan tetamu akan menuju ke Rumah Balug, di tengah perkampungan.